Di tengah situasi politik dan persoalan ekologis yang terus bergulir, Rani Jambak memilih bunyi sebagai medium untuk menyuarakan keresahan.
Komposer, produser, dan field recordist Rani Jambak merilis album eksperimental terbarunya, “LARA(NGAN)”, melalui label nirlaba Yes No Wave Music pada 10 Agustus 2026.
Album ini lahir dari pertemuan antara lara, kemarahan, persoalan lingkungan, dan keresahan politik. Rani memasukkan sejumlah rekaman lapangan dari aksi demonstrasi ke dalam komposisinya, menjadikan suara-suara tersebut sebagai bagian dari narasi perlawanan.

“LARA(NGAN)” sendiri mempertemukan dua kata: lara dan larangan. Keduanya menjadi gagasan utama dalam karya ini—tentang batas antara manusia, alam, adat, dan kehidupan yang ketika dilanggar dapat melahirkan kerusakan serta penderitaan.
Terdiri dari tujuh komposisi, album ini membawa pendengar melalui eskalasi emosi yang perlahan. “Pedogenesis” berbicara tentang eksploitasi alam, sementara “Mikroseisme” mengangkat metafora suara masyarakat kecil yang kerap tak terdengar.
Perjalanan tersebut berlanjut melalui “Regang”, “Saseso”, dan “Abih Raso”, sebelum ditutup oleh “Kun” dan “Utopia” yang menghadirkan kemungkinan tentang pemulihan, bumi, dan perdamaian.
Bagi Rani, musik tidak harus berdiri jauh dari realitas. Ketika demonstrasi berakhir dan massa kembali ke rumah, bunyi bisa menjadi cara lain untuk menjaga ingatan tentang apa yang pernah diperjuangkan.
Lewat “LARA(NGAN)”, musik tak hanya menjadi karya untuk didengarkan, tetapi juga arsip keresahan, kritik, sekaligus bentuk perlawanan artistik.
Karena demonstrasi tidak selalu harus berhenti ketika jalanan kembali sepi.

